Siklus kehidupan yang terus berjalan
tanpa menoleh kembali pada waktu yang terlewati menuntut kita untuk
memanfaatkan dengan benar setiap kesempatan. Setiap detik, setiap tahap
perjalanannya. Berusaha semaksimal mungkin agar tetap sistematis, matematis,
juga termanajemen. Lalu, adakah matematika berperan didalamnya? Tentu saja
sangatlah banyak.
Matematika memang ilmu yang objeknya
bersifat abstrak dan tidak semua penerapannya bisa begitu saja diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, karena matematika menjadi pelengkap atau bahkan dasar
dari ilmu pengetahuan lainnya. Seperti hal nya fisika dan kimia dimana
kemampuan berhitung matematis menjadi syarat utama. Amat disayangkan,
penggunaan matematika sederhana tak banyak orang yang menyadarinya. Sebagian
besar orang mungkin menganggapnya memang sudah begitu fase kehiduan berjalan.
Lantas, mengikuti alur saja.
Namun akan ada sedikit perbedaan
manakala kita melihat sisi lain seorang matematikawan. Seorang matematikawan
bisa dipastikan sebagai seseorang yang hidup sistematis, matematis dan juga berkembang
menjadi problem solver yang baik. Sebagaimana demikian matematika
membentuk karakter yang mempelajarinya. Hal inilah yang banyak dimanfaatkan dan
dibutuhkan untuk menghadapi setiap perkembangan zaman. Permasalahan yang
semakin kompleks dari masa ke masa, dimana hal kecil pun menjadi bagian dari
permasalahan masa kini. Misalnya saja mengantri. Sering terpandang sebelah
mata. Namun, tak bisa kita biarkan begitu saja potensi masalah didalamnya.
Mengantri, setiap orang pasti pernah
mengalaminya. Sebagai warga negara yang menggunakan fasilitas dan pelayanan
publik kegiatan mengantre ini tak bisa dihindari. Di negara padat penduduk
seperti negara kita ini, mengantri bahkan sudah menjadi hal yang tak tabu. Namun,
antrian yang tidak terkendali tak jarang menimbulkan kemacetan, kegaduhan,
bahkan kericuhan.
Budaya antri ini tak mungkin
dihapuskan. Dari pelayanan bank, pembelian tiket transportasi umum, hingga
antre dalam sebuah event. Tentu sudah merupakan rahasia umum jikalau mengantri
dan sabar tak boleh terpisahkan. Lalu, bagaimanakah tugas kita selaku pemuda
bangsa menyikapi hal ini? Tentu saja mengendalikannya. Hingga diharapkan, tidak
lagi kita lihat di media massa korban berjatuhan karena dampak negatif
berdesakan mengantri terjadi.
Lalu bagaimana mencegah hal-hal
negatif dari dampak mengantri tersebut? Disinilah matematika oleh si
matematikawan berperan. Dimana setiap variabel seperti lamanya pelayanan
publik, jumlah pelayanan yang dibuka, waktu pelayanan, jumlah pengantri, dan
bentuk antrian diperhatikan. Dengan perbandingan yang terporsir dan pelaksanaan
yang sistematis, tentu hal-hal negatif yang merupakan dampak mengantri sangat
mungkin untuk diminimalisir bahkan dihapuskan.
Mengangkat problema yang begitu dekat
dengan saya yang kini masih bersekolah di sebuah boarding school. Dimana mengantri
makan siang sering kali menjadi keluhan. Sering kali antrian yang panjang
menyebabkan sebagian santri telat mengikuti jam pelajaran selanjutnya. Dengan waktu yang sangat
terbatas yaitu dari pukul 12.00 – 13.00 dan untuk setiap santri diperkirakan
makan selama 10 menit perorang. Dengan hanya terbuka 3 antrian layanan makan
siang harus mencukupi untuk sekitar 1000 Santri mengantri dan makan
siang. Dan waktu pelayanan yang bisa dirata-ratakan 30 detik. Berdasarkan
hal tersebut kita akan melihat jumlah antrian yang terbuka sebagai titik
masalah. Lalu, berapakah jumlah seharusnya? Dengan model matematika maka kita
dapat menyelesaikan masalah ini.
Jumlah waktu yang tersedia adalah 1
jam atau 60 menit, dikurangi waktu makan 10 menit sehingga dalam waktu 1 jam
sudah tidak ada yang masih makan. Maka waktu yang tersedia adalah 50 menit.
Dalam waktu 50 menit tersebut dapat mengantri 100 santri (50 menit/ 0.5 menit).
Maka model matematika untuk kasus ini adalah :
Jumlah layanan = Jumlah santri seluruhnya :
Jumlah santri yang mengantri
= 1000 : 100 = 10 layanan.
Maka dibutuhkan 7 layanan lagi untuk
mengefektifkan antrian
Selain permasalahan sederhana semacam
itu, konsep matematika juga bisa menjadi solusi permasalahan kemacetan lalu
lintas. Dimana lama waktu lampu merah dan lampu hijau disesuaikan dengan volume
kendaraan yang melintas dan rata-rata kecepatan kendaraan yang melewatinya.
Mengapa? Untuk menghindari penumpukan kendaraan di persimpangan jalan sehingga
tidak timbul kemacetan. Demikian mengapa kerap kali kita menemukan perbedaan
lama waktu lampu merah dan hijau antara persimpangan satu dan yang lainnya.
Selain dari sisi pengaturan lalu lintas
antrian, kita juga dapat mengaplikasikannya dalam pemilihan wahana permainan di
sebuah taman wisata. Dengan perhitungan panjang antrian, lama perlayanan
administrasi, dan lamanya wahana permainan berlangsung selama satu kali
permainan, maka kita mampu mempertimbangkan antara mengantri di wahana 1 atau
mengantri di wahana lainnya. Tentunya dengan perbandingan waktu tempuh untuk
mendapat giliran.
Sayangnya, peranan matematika yang
sederhana dalam keseharian tidak banyak disadari dikalangan pelajar. Entah
karena mindset bahwa matematika yang rumit atau apalah sehingga
menganggap penerapannya begitu kompleks. Hal ini berdampak, kebanyakan pelajar
merasa enggan untuk mendalaminya. Oleh karenanya diharapkan untuk setiap mata
pelajaran “mother of knowledge” ini penerapan matematika tidak luput
dari pembahasan. Sehingga pada akhirnya setiap pelajar merasa dan menganggap
dengan matematika kehidupan menjadi teratur dan sistematematis (sistematis
dan matematis).