Maaf, satu kata ini memang manjur kita ucapkan.
Mengungkapkan rasa bersalah danketidak enakan hati. Namun satu hal yang perlu
kau ketahui. Kata maaf ini tak akan membantu jika sering kau ucap. Hanya akan
menimbulkan kekecewaan dan sakit hati. Terlalu banyak maaf, terlalu banyak
janji.
Ini cerita tentangku. Saat suatu sebuah ajang bergengsi
sedang berlangsung.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap. Hari ini lomba nasyid,
tempatnya dipanggung utama. Tanggung jawab ku sudah selesai kemarin. Memang
lomba dengan sedikit peserta.. selesai
lebih dulu dari yang lain. Tapi.. hari ini koordinatorku cukup sibuk.
Mau ga mau harus ikut membantu sebagai bawahan yang memang harusnya lebih
banyak bekerja dari pada ketuanya. Untuk acara ini, setiap penanggung jawab
lomba dari kami memegang telpon genggam untuk saling berkoordinasi. Tapi.. bisa
dibilang ini sedikit pelanggaran. Sms-an bukan untuk acara ini saja. Sms-an
sama temen deket aku yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri.
Liburan kemarin aku banyak cerita dengannya tapi.. dia tak
banyak bersua. Katanya ingin cerita tapi bukan sekarang. Cukup membuat
penasaran. Tapi menunjukan aku kepo sedikit gengsi buatku. Walaupun kami sudah
sangat dekat (bagiku)
Sampai akhirnya ketika kegiatan ini telah usai. Sms
bergiliran masuk. Hingga lebih dari 50 sms. Batrai Hape-ku tinggal sebatang.
Satu garis dari 4 garis. Itu artinya tinggal 25% bahkan bisa jadi kurang.
Namun.. aku masih harus menelon beberapa orang. Pembina lomba ku, dan juga
koordinatorku. Laporan.. bagaimana jalannya acara tadi.
Entah, tinggal berapa cadangan energy batre yg tersisa. Dari
50 lebih sms yg tadi sudah kulihat notificationnya ternyata bertambah, makin
berlimpah. Ternyata 60 sekarang. Bingung benar rasanya bagaimana mungkin
membalas semua sms dalam waktu singkat agar tidak banyak menghabiskan batrai
hp. Insiatif saja.. aku membaca seluruh ceritanya terlebih dahulu. Lalu kubalas
satu-persatu. Namun nahas, batre hape benar-benar kosong. Hape mati seketika.
Mau ga mau.. akhirnya kutitipkan hp kepada temanku untuk di charge di kantor
ruhiyyah. Biar aman katanya. Kalau dikamar, teteh asrama seringkali bolak balik
mencurigai adanya gadget dikamar atau diasrama.
Tanpa hape ditangan.. aku mengikuti rangkaian penutupan
dengan sedikit rasa tak enak hati. Belum membalas semua smsnya. Padahal.. saat
liburan dia banyak membantu, memberi saran atau apalah saat aku bercerita atau
sedikit curhat colongan.
Maghrib. Seluruh panitia dipanggil ke depan kantor laundry
untuk evaluasi. Aku sudah pegang hape memang, namun sungguh tak mungkin
membalas semua smsnya. Abis maghrib ini harusnya kami semua kerja bakti untuk
membereskan semua bekas acara ini.
Tapi karena sakit perut yang tidak mendukung akhirnya aku
kembali ke kamar. Ada waktu untuk membalas smsnya. Tapi.. karena lelah atau
apalah ketiduran dan tidak jadi membalas sms-sms tadi. Esoknya.. badan
nge-down, seperti biasa. Setiap ada kerja keras yang mencurahkan seluruh tenaga
seperti ini pastilah besoknya sakit. Ga enak badan, entah lah. Ga bisa
diungkapin.
Tapi. Aku pernah janji untuk rombak kamar. Ganti posisi
ranjang dan lemari-lemari. Kamar ku ini sudah seperti kapal pecah. Sampah
disana sini seperti kapal pecah benar. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga
membantu anak kamar menggeser-geser ranjang besi yang yaah.. lumayan beratnya.
Kamar perempuan seperti ini? Sungguh tak wajar. Akhirnya kegiatan beres-beres
baru selesai jam 2 siang. Bayangkan dimulai dari jam 9 dan berakhir jam 2
siang. Sangat lama memang. Setelah selesai beberes kamar ini.. langsung laundry
dan kembali ke kamar untuk makan. Sudah sakit, capek, sensi sudah. Marah-marah
ke anak kamar menjadi bentuk pelampiasan. Mau gimana lagi semua deadline harus
diselesaikan. Dr lpj aresta, lpj acara, lpj ppm, lpj pendidikan. Semuanyaaaa
butuh pertanggung jawaban. Ini beru di dunia!!! Amanah.. benar benar rasanya.
Ini sangat menumpuk dipundak.. tapi.. menganggapnya seperti beban sungguh hal
yang salah. Lansung saja ke kantor OSHK untuk mengurus semua berkas dan
mengumpulkannya dalam satu-satunya flashdisk. Hanya satu fd ini yang kupunya.
Lalu.. beberapa saat kemudian sang ketua OSHK masuk ke
kantor yang lebih bisa dibilang sebagai gudang ini. Menghimbau kepada seluruh
musyrifah kamar mudabbir untuk menyuruh anak kamar nya untuk menitipkan hp.
Tapi.. aku masih pegang hp. Gimana ini?? Mau ga mau hp ku pun harus dititipkan.
Tentang amanah ini… hanya bisa pasrah. Posisiku dengan kakaku tentulah tak
sama. Aku sedikit terkekang.. tak bisa sedikit melenceng sedikitpun. Harus pada
satu garis lurus. Mau tak mau. Sangat menyebalkan memang… sampai sekarang ini
masih satu pertanyaan itu yang terucap “ kapan kita lengser? Sudah tak sanggup
rasanya…”
Yah, inilah mungkin yang bisa sedikit kujelaskan. Mengapa
semua sms tak terbalas.. hanya terbaca. Maaf, beribu kata… MAAF~~
-_-
BalasHapus