Sabtu, 22 Februari 2014

MAAF.



Maaf, satu kata ini memang manjur kita ucapkan. Mengungkapkan rasa bersalah danketidak enakan hati. Namun satu hal yang perlu kau ketahui. Kata maaf ini tak akan membantu jika sering kau ucap. Hanya akan menimbulkan kekecewaan dan sakit hati. Terlalu banyak maaf, terlalu banyak janji.
Ini cerita tentangku. Saat suatu sebuah ajang bergengsi sedang berlangsung.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap. Hari ini lomba nasyid, tempatnya dipanggung utama. Tanggung jawab ku sudah selesai kemarin. Memang lomba dengan sedikit peserta.. selesai  lebih dulu dari yang lain. Tapi.. hari ini koordinatorku cukup sibuk. Mau ga mau harus ikut membantu sebagai bawahan yang memang harusnya lebih banyak bekerja dari pada ketuanya. Untuk acara ini, setiap penanggung jawab lomba dari kami memegang telpon genggam untuk saling berkoordinasi. Tapi.. bisa dibilang ini sedikit pelanggaran. Sms-an bukan untuk acara ini saja. Sms-an sama temen deket aku yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri.
Liburan kemarin aku banyak cerita dengannya tapi.. dia tak banyak bersua. Katanya ingin cerita tapi bukan sekarang. Cukup membuat penasaran. Tapi menunjukan aku kepo sedikit gengsi buatku. Walaupun kami sudah sangat dekat (bagiku)
Sampai akhirnya ketika kegiatan ini telah usai. Sms bergiliran masuk. Hingga lebih dari 50 sms. Batrai Hape-ku tinggal sebatang. Satu garis dari 4 garis. Itu artinya tinggal 25% bahkan bisa jadi kurang. Namun.. aku masih harus menelon beberapa orang. Pembina lomba ku, dan juga koordinatorku. Laporan.. bagaimana jalannya acara tadi.
Entah, tinggal berapa cadangan energy batre yg tersisa. Dari 50 lebih sms yg tadi sudah kulihat notificationnya ternyata bertambah, makin berlimpah. Ternyata 60 sekarang. Bingung benar rasanya bagaimana mungkin membalas semua sms dalam waktu singkat agar tidak banyak menghabiskan batrai hp. Insiatif saja.. aku membaca seluruh ceritanya terlebih dahulu. Lalu kubalas satu-persatu. Namun nahas, batre hape benar-benar kosong. Hape mati seketika. Mau ga mau.. akhirnya kutitipkan hp kepada temanku untuk di charge di kantor ruhiyyah. Biar aman katanya. Kalau dikamar, teteh asrama seringkali bolak balik mencurigai adanya gadget dikamar atau diasrama.
Tanpa hape ditangan.. aku mengikuti rangkaian penutupan dengan sedikit rasa tak enak hati. Belum membalas semua smsnya. Padahal.. saat liburan dia banyak membantu, memberi saran atau apalah saat aku bercerita atau sedikit curhat colongan.
Maghrib. Seluruh panitia dipanggil ke depan kantor laundry untuk evaluasi. Aku sudah pegang hape memang, namun sungguh tak mungkin membalas semua smsnya. Abis maghrib ini harusnya kami semua kerja bakti untuk membereskan semua bekas acara ini.
Tapi karena sakit perut yang tidak mendukung akhirnya aku kembali ke kamar. Ada waktu untuk membalas smsnya. Tapi.. karena lelah atau apalah ketiduran dan tidak jadi membalas sms-sms tadi. Esoknya.. badan nge-down, seperti biasa. Setiap ada kerja keras yang mencurahkan seluruh tenaga seperti ini pastilah besoknya sakit. Ga enak badan, entah lah. Ga bisa diungkapin.
Tapi. Aku pernah janji untuk rombak kamar. Ganti posisi ranjang dan lemari-lemari. Kamar ku ini sudah seperti kapal pecah. Sampah disana sini seperti kapal pecah benar. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga membantu anak kamar menggeser-geser ranjang besi yang yaah.. lumayan beratnya. Kamar perempuan seperti ini? Sungguh tak wajar. Akhirnya kegiatan beres-beres baru selesai jam 2 siang. Bayangkan dimulai dari jam 9 dan berakhir jam 2 siang. Sangat lama memang. Setelah selesai beberes kamar ini.. langsung laundry dan kembali ke kamar untuk makan. Sudah sakit, capek, sensi sudah. Marah-marah ke anak kamar menjadi bentuk pelampiasan. Mau gimana lagi semua deadline harus diselesaikan. Dr lpj aresta, lpj acara, lpj ppm, lpj pendidikan. Semuanyaaaa butuh pertanggung jawaban. Ini beru di dunia!!! Amanah.. benar benar rasanya. Ini sangat menumpuk dipundak.. tapi.. menganggapnya seperti beban sungguh hal yang salah. Lansung saja ke kantor OSHK untuk mengurus semua berkas dan mengumpulkannya dalam satu-satunya flashdisk. Hanya satu fd ini yang kupunya.
Lalu.. beberapa saat kemudian sang ketua OSHK masuk ke kantor yang lebih bisa dibilang sebagai gudang ini. Menghimbau kepada seluruh musyrifah kamar mudabbir untuk menyuruh anak kamar nya untuk menitipkan hp. Tapi.. aku masih pegang hp. Gimana ini?? Mau ga mau hp ku pun harus dititipkan. Tentang amanah ini… hanya bisa pasrah. Posisiku dengan kakaku tentulah tak sama. Aku sedikit terkekang.. tak bisa sedikit melenceng sedikitpun. Harus pada satu garis lurus. Mau tak mau. Sangat menyebalkan memang… sampai sekarang ini masih satu pertanyaan itu yang terucap “ kapan kita lengser? Sudah tak sanggup rasanya…”
Yah, inilah mungkin yang bisa sedikit kujelaskan. Mengapa semua sms tak terbalas.. hanya terbaca. Maaf, beribu kata… MAAF~~

1 komentar: